More

    Strategi Rusia Mendominasi Laut Hitam, Kombinasi Aset Militer dan Sipil

    on

    |

    views

    and

    comments

    Pada 14 November, selama Konferensi Internasional Ketiga untuk Keamanan Maritim, di Odesa, komandan Angkatan Laut Ukraina Laksamana Ihor Voronchenko mengatakan bahwa bomber Tu-22M3 Backfire Rusia telah teramati mensimulasikan peluncuran serangan rudal di kota pantai ini.

    Voronchenko menambahkan bahwa pembom Rusia telah melakukan beberapa upaya serupa selama latihan pada 10 Juli dengan melakukan serangan udara virtual 60 kilometer dari Odesa.  Selain itu Federasi Rusia telah secara dramatis meningkatkan kehadiran militernya di Crimea setelah wilayah tersebut menjadi bagian wilayahnya pada tahun 2014.

    Yuri Lapaiev seorang lulusan Universitas Angkatan Udara Ivan Kozhedub di Kharkiv Ukraina dalam tulisannya di Realclear Defense Rabu 20 November 2019 menyebut sejumlah kapal perang yang ditempatkan di sana meningkat dari 34 menjadi 49, sementara jumlah kapal selam meningkat dari satu menjadi tujuh. Selain itu, sebagian besar kapal Rusia ini sedang dimodernisasi dan dipersenjatai dengan rudal jelajah tipe 3M-54 Kalibr (SS-N-27 Sizzler dan SS-N-30A).

    “Selain meningkatkan kekuatan angkatan lautnya, Kremlin telah menguji berbagai cara lain untuk memberikan tekanan di Laut Hitam. Salah satu metode ini adalah pemblokiran secara periodik wilayah laut yang luas untuk latihan militer,” tulis Lapaiev yang pernah menjadi analis di Ukraina Defense Intelligence tersebut.

    Setiap negara pesisir Laut Hitam memiliki hak untuk melakukan latihan militer, termasuk latihan penembakan rudal di badan air ini. Namun hukum internasional mensyaratkan bahwa negara yang melakukan penembakan harus mengirim permintaan resmi ke layanan maritim internasional sebelum melakukannya.

    Mantan personel Pasukan Operasi Khusus Ukraina dan berpartisipasi dalam Operasi Anti-Terorisme (ATO) di Ukraina bagian timur ini menambahkan pada musim panas 2019, Rusia memblokir banyak daerah tanpa terlebih dahulu mengajukan permintaan semacam itu, sehingga mengganggu navigasi dan hampir menghalangi pengiriman internasional ke dan dari Georgia, Bulgaria, Rumania, dan Ukraina.

    Sebagai contoh, pada 24 Juli, Rusia memblokir wilayah seluas 120 ribu kilometer persegi atau hampir 25 persen dari seluruh permukaan Laut Hitam. Namun, penting untuk menunjukkan bahwa Rusia tidak memiliki pasukan angkatan laut yang cukup yang ditempatkan di wilayah itu untuk melakukan latihan di wilayah yang luas tersebut sementara juga menjamin keamanan yang memuaskan di sana.

    Blokade ini tidak hanya berdampak ekonomi tetapi juga dirancang dengan tujuan politis. Sebagian besar tindakan Rusia untuk membatasi lalu lintas maritim bertepatan dengan latihan regional yang dipimpin oleh Pakta Partahanan Atlantik Utara (NATO) seperti Sea Breeze 2019 (di Ukraina) dan Agile Spirit 2019 (di Georgia).

    “Dan dalam kedua kasus, kapal perang Rusia terlibat dalam perilaku agresif, memprovokasi kapal NATO dan Ukraina. Salah satu provokasi seperti itu difilmkan oleh tim jurnalis militer Ukraina sebagai bagian dari delegasi Ukraina yang berpartisipasi dalam Agile Spirit 2019,” katanya.

    Selama perjalanan mereka ke Georgia dan saat berada di perairan netral, awak Ukraina Pereyeslav menerima peringatan melalui radio dari kapal angkatan laut Rusia. Rusia memperingatkan bahwa Ukraina harus berbalik karena daerah itu diduga diblokir.

    Koordinator internasional tidak mengkonfirmasi fakta itu, jadi kapten Pereyaslav memutuskan untuk mempertahankan kapal sepanjang jalur aslinya. Segera setelah itu, Kasimov, sebuah korvet Project 1124M / Kelas Grisha V Rusia terlihat di dekat kapal Ukraina.

    Perilaku agresif korvet Rusia baru berhenti ketika sebuah pesawat pengintai Turki tiba di dekat Pereyaslav. Demikian pula, pada bulan Juli, kapal-kapal Rusia memasuki area yang ditutup oleh NATO untuk latihan Sea Breeze 2019 dan melakukan perilaku agresif.

    Laut Azov dan Selat Kerch, bersebelahan dengan sektor timur laut Laut Hitam, juga secara teratur menyaksikan aktivitas  pasukan Rusia. Pihak berwenang Rusia telah berulang kali menggunakan kekuatan untuk memblokir navigasi maritim melalui selat yang menghubungkan laut Azov dan Laut Hitam, atau setidaknya untuk memaksa kapal menunggu lebih lama dalam antrean untuk transit.

    Misalnya, waktu tunggu rata-rata untuk satu kapal pada Juli 2019 adalah 19 jam. Pada bulan Agustus meningkat meningkat menjadi 39 jam, dan pada bulan September, menjadi 48,5 jam. Hal itu memicu kerugian ekonomi lebih lanjut untuk pelabuhan Laut Azov di Ukraina dari Berdyansk dan Mariupol, yang, pada 1 Februari 2019, telah mencapai US$ 360 juta. Salah satu alasan  yang diberikan otoritas Rusia untuk hambatan navigasi adalah  kondisi cuaca buruk

    Selain blokade  semacam itu, Kremlin terus mengembangkan zona anti-acces/area denial  (A2 / AD) di Laut Hitam dengan memperluas kemampuan Armada Laut Hitam dan unit anti-pesawat di Crimea dan di dekatnya Wilayah Krasnodar.  Rusia bahkan telah menggunakan benda-benda sipil untuk tujuan militer yang eksplisit.

    Menurut Vice Admiral Ukraina Andriy Tarasov, berbicara di Forum Keamanan Ketiga di Lviv, Rusia telah mengerahkan peralatan ntelligence, surveillance and reconnaissance (ISR) pada rig “Godovanets” dan “Ukraina”, yang disita dari Ukraina pada tahun 2014.

    “Ini pada dasarnya telah mengubah platform yang awalnya sipil menjadi alat yang efektif untuk mengendalikan udara, permukaan dan lingkungan bawah permukaan di seluruh Laut Hitam. Langkah-langkah seperti itu diperlukan bagi Rusia untuk menjaga jaringan pipa gas alam lepas pantai, TurkStream dan Blue Stream, yang saat ini sedang dibangun di sepanjang dasar Laut Hitam,” tutup Yuri Lapaiev yang kini menjadi wakil pemimpin redaksi majalah Tyzhden (The Ukrainian Week) tersebut.

    Share this
    Tags

    Must-read

    Sebagian Misi Kami Melawan Channel Maling Berhasil

    Sekitar 3 tahun Channel JejakTapak di Youtube ada. Misi pertama dari dibuatnya channel tersebut karena banyak naskah dari Jejaktapak.com dicuri oleh para channel militer...

    Rudal Israel dan Houhti Kejar-kejaran di Langit Tel Aviv

    https://www.youtube.com/watch?v=jkIJeT_aR5AKelompok Houthi Yaman secara mengejutkan melakukan serangan rudal balistik ke Israel. Serangan membuat ribuan warga Tel Aviv panic dan berlarian mencari tempat perlindungan. Serangan dilakukan...

    3 Gudang Senjata Besar Rusia Benar-Benar Berantakan

    Serangan drone Ukraina mengakibatkan tiga gudang penyimpanan amunisi Rusia benar-benar rusak parah. Jelas ini sebuah kerugian besar bagi Moskow. Serangan drone Ukraina menyasar dua gudang...

    Recent articles

    More like this