Suriah menegaskan akan menghadapi agresi Turki dengan segala cara dan metode yang sah. Di sisi lain Damaskus juga menyatakan tidak sudi berdialog dengan Kurdi yang dianggap sebagai pengkhianat.
Sumber resmi di Kementerian Urusan Luar Negeri dan Ekspatriat mengatakan kepada Kantor Berita Suriah, SANA setelah menyediakan dukungan terus-menerus kepada pelaku teror di Suriah, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tampil dengan pernyataan yang bertolak-belakang.
“Erdogan mengeluarkan pernyataan yang hanya dapat dikeluarkan oleh orang yang menjauhkan diri dari kenyataan, sebab ia berbicara mengenai komitmennya bagi perlindungan rakyat Suriah sementara tangannya dipenuhi darah rakyat Suriah yang tewas oleh pelaku teror yang ia dan rezimnya lakukan”, kata pernyataan tersebut.
Sumber itu mengatakan Erdogan berbicara mengenai kekhawatirannya buat rakyat Suriah dan melindungi mereka serta memelihara nyata mereka, semuanya saat ia menyerang warga sipil di Suriah Utara.
Erdogan, katanya, menyampaikan dalih mengenai memerangi terorisme, dan pemerintah Erdogan bersembunyi di balik slogan kemanusiaan ketika pemerintah itu bergerak menjauhi semuanya dan bertanggung jawab karena melakukan pembunuhan massal.
Sumber tersebut menambahkan Suriah akan menghadapi agresi Turki dalam segala bentuknya di seluruh negeri itu dengan menggunakan segala cara dan metode yang sah. Ditegaskannya, perang melawan terorisme di Suriah takkan dihentikan oleh pernyataan Erdogan, dan tugas melindungi rakyat Suriah adalah kewajiban Tentara Arab Suriah serta Negara Suriah, dan bukan pihak lain.
Dialog dengan Kurdi
Sementara iktu Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Maqdad juga mengecam pasukan pimpinan Kurdi, yang didukung Amerika Serikat, dan menyatakan tidak sudi melanjutkan dialog dengan kelompok itu, yang ia anggap telah berkhianat kepada negara.
Maqdad juga menuduh pasukan Kurdi memiliki agenda separatisme hingga memberi dalih bagi Turki untuk melanggar kedaulatan negaranya.
Pasukan Kurdi saat ini sedang menghadapi serangan dari Turki, yang berupaya mendepak kelompok itu keluar dari Suriah utara.
Ketika ditanya apakah Pemerintah Suriah perlu melanjutkan pembicaraan dengan pasukan Kurdi, Maqdad mengatakan “kelompok bersenjata ini telah mengkhianati negara dan melakukan kejahatan terhadap negara.”
“Kami tidak mau melakukan dialog atau pembicaraan dengan pihak-pihak yang telah menjadi sandera pasukan asing … Tidak akan ada tempat berpijak bagi kaki tangan Washington di wilayah Suriah,” tegas Maqdad kepada para wartawan di kantornya di Damakus.
Seorang pejabat Kurdi Suriah pada awal pekan ini mengatakan pihak berwenang pimpinan Kurdi di Suriah utara kemungkinan akan membuka diri untuk berdialog dengan Damaskus dan Rusia guna mengisi kekosongan keamanan setelah Amerika Serikat menarik pasukannya secara penuh dari daerah perbatasan Turki.
Seorang komandan utama juga mengatakan bahwa satu pilihan Kurdi adalah menyerahkan kembali wilayah kepada Pemerintah Suriah.
YPG Kurdi, kelompok milisi yang kuat, pernah dibantu oleh Pemerintah Suriah mengambil kendali kota-kota yang berpenduduk suku Kurdi pada awal-awal konflik.
Saat itu, Damaskus sedang memusatkan perhatiannya untuk memadamkan protes massal terhadap kepemimpinan Presiden Bashar al Assad. Rangkaian aksi protes itu sendiri kemudian berubah menjadi pemberontakan bersenjata.
YPG Kurdi Suriah tidak pernah melawan pemerintah selama perang itu dan bahkan menerima keberadaan pemerintah Suriah di kota utama yang dikuasainya, Qamishli. Kelompok itu juga memiliki bisnis menguntungkan dengan Damaskus dari penjualan minyak terlarang.