Pakistan Beli 36 Jet Tempur Mirage V Bekas Mesir

Pakistan Beli 36 Jet Tempur Mirage V Bekas Mesir

Angkatan Udara Pakistan akan menandatangani kontrak untuk membeli pesawat tempur Dassault Mirage V bekas milik Mesir. Kedua negara telah menegosiasikan kontrak selama bertahun-tahun dan sekarang kontrak tersebut telah mendekati titik akhir.

“Negosiasi untuk membeli 36 pesawat semacam itu hampir mencapai tahap akhir,” kata salah seorang yang akrab dengan negosiasi tersebut sebagaimana dikutip RS News Rabu 4 September 2019. Jet-jet ini sudah dipensiunkan dari Angkatan Udara Mesir sejak lama, jadi Pakistan akan memperbaikinya sebelum pesawat agar siap digunakan.

Mirage V yang ditingkatkan nantinya akan memiliki helmet-mounted display, pod misi, dan kemampuan serangan malam. Sumber mengatakan Pakistan akan meningkatkan jet-jet ini sebelum menggunakan mereka, seperti di masa lalu ketika mereka meningkatkan puluhan Mirage-III / V dengan radar Italia dan elektronik lainnya di Mirage Rebuild Factory, yang didirikan oleh Angkatan Udara Pakistan di 1978

Angkatan Udara Pakistan telah mengoperasikan jet tempur Mirage selama lima dekade terakhir dan meskipun ada induksi JF-17, pasukan itu berencana menunda pensiun Mirage karena tidak ada persenjataan yang lebih baik.  Selama lima dekade terakhir, Pakistan telah membeli hampir 150 jet tempur Mirage III / V. Di masa lalu mereka juga membeli pensiunan Mirage-III dari Australia.

Mirage V adalah varian khusus Mirage III  serangan darat, dengan ruang yang lebih besar untuk bahan bakar. Jet Mirage buatan Dassault ini mendapat perhatian besar pada awal Februari ketika Angkatan Udara India menggunakan Mirage 2000 untuk menghancurkan infrastruktur di Balakot di Pakistan. Satu-satunya fitur sama Mirage V dan Mirage 2000 Angkatan Udara India adalah desain sayap delta.

Hubungan antara kedua negara bersenjata nuklir itu sekali lagi menukik pada Agustus setelah New Delhi memutuskan untuk mencabut status khusus yang diberikan kepada wilayah Kashmir yang disengketakan.

Meski India menyebut keputusan itu sebagai “urusan internal”, Pakistan berpendapat di beberapa forum internasional termasuk di PBB bahwa itu merupakan pelanggaran terhadap perjanjian bilateral dan Konvensi Wina.

Militer Pakistan telah bersumpah untuk berjuang memberikan keadilan kepada orang-orang Kashmir dan telah mengerahkan ratusan komando elite di dekat garis kontrol yang secara de facto sebagai  perbatasan yang memisahkan wilayah Kashmir antara kedua negara. Angkatan Udara Pakistan juga mengerahkan jet garis depan di pangkalan udara depan Skardu dekat Ladakh bulan lalu untuk menangkal serangan seperti yang dilakukan India di Balakot.