Asia Timur telah menjadi jantung ekonomi global, tempat di mana sebagian besar produk teknologi tinggi yang menentukan tingkat perkembangan manusia saat ini diproduksi.
Revolusi manufaktur Asia dimulai di Jepang, tetapi sekarang terkonsentrasi di China. Bahkan perusahaan yang seolah-olah berlokasi di negara lain, seperti Samsung dan Sony, bergantung pada input China untuk produk mereka. Akibatnya, China telah menjadi kekuatan manufaktur terbesar di dunia.
Seiring waktu, para pemimpin China akan mencoba menerjemahkan kecakapan ekonomi itu menjadi kekuatan militer dan pengaruh politik. Pemerintah Trump adalah administrasi Amerika pertama yang secara eksplisit mengakui bahwa China berupaya untuk menggeser pengaruh Amerika— tidak hanya di Asia Timur, tetapi di seluruh dunia. Dengan demikian Pentagon kini fokus untuk menghadapi kekuatan besar seperti China.
Rusia masih berbahaya, tetapi China meningkat dengan cepat. Satu-satunya tujuan paling penting dari strategi geopolitik China selama dekade berikutnya akan merusak supremasi maritim Amerika di Pasifik Barat, dan mengisi kekosongan yang dihasilkan dengan sistem militer China baik kapal perang, pesawat, amunisi jarak jauh, dll.
Angkatan Laut Amerika telah memulai program inovasi dan investasi berjangkauan luas yang bertujuan menghalangi ambisi orang China.
Tapi mungkin sudah terlambat. Status “negara yang paling disukai” selama dua dekade dalam sistem perdagangan global yang dikombinasikan dengan agenda kebijakan merkantilis yang mendalam telah memberi Beijing baik pengaruh ekonomi maupun pengetahuan teknologi untuk berhasil bersaing dengan Amerika.
Meski sebagian besar masalah yang dihadapi perencana militer Amerika diselimuti kerahasiaan, faktor-faktor mendasar yang memfasilitasi serangan China terhadap supremasi maritim Amerika di Pasifik Barat tidak sulit untuk dilihat. Berikut adalah lima masalah yang menarik sebagaimana ditulis Loren Thompson di Forbes:

Geografi
Strategi Amerika yang berlaku untuk melawan militer China melibatkan pembentukan batas yang membentang melalui pulau-pulau di lepas pantai China dari Malaysia ke Jepang. Rantai pulau ini juga merupakan pusat strategi China, tetapi sementara Washington melihatnya sebagai sarana untuk menjaga pasukan China tetap terkendali, Beijing melihatnya sebagai sarana untuk menjaga pasukan Amerika keluar.
Seiring waktu, hampir semua keuntungan strategis akan bertambah ke China, karena lokasinya menjadikannya “kerajaan tengah” yang mendominasi wilayah ini. Sebaliknya, pangkalan Amerika terdekat di tanah Amerika, di Guam, berjarak 2.000 mil dan Pearl Harbor di Hawaii berjarak 5.000 mil. Dengan demikian China memiliki kedalaman strategis yang besar secara lokal, dan kekuatan Amerika tidak.
China dapat menargetkan aset militer Amerika
Breaking Defense melaporkan bahwa pasukan militer Amerika biasanya kehilangan permainan perang di mana mereka melawan China yang mampu memanfaatkan kedalaman strategis lokalnya untuk meluncurkan ribuan rudal anti-kapal, dan mengganggu jaringan militer Amerika.
Sejumlah pangkalan darat Amerika di wilayah tersebut mudah ditargetkan karena lokasinya diketahui dengan baik, dan begitu senjata hipersonik memasuki gudang senjata China, Amerika akan memiliki waktu yang sangat sedikit untuk menghadapi serangan.
Sementara itu, Beijing juga semakin memperoleh sensor overhead dan tautan komando yang diperlukan untuk menargetkan pangkalan Amerika di laut, atau kapal induk dan kapal perang lainnya.
Dengan hanya sekitar 60 kapal perang yang hadir di wilayah tersebut pada hari-hari biasa, Angkatan Laut Amerika akan kesulitan untuk mengusir jenis serangan yang akan dapat diluncurkan China dengan cepat.