Seperti diketahui beberapa waktu lalu Angkatan Laut Amerika telah memberikan kontrak kepada Boeing untuk menyediakan empat kendaraan tanpa awak bawah air ekstra besar atau Extra-Large Unmanned Underwater Vehicles (XLUUV), atau istilahnya kapal selam drone raksasa.
Kapal selam yang dikenal sebagai Orca ini adalah platform yang relatif murah, tetapi jika Anda ingin melihat bagaimana pertempuran laut masa depan, maka kapal in menjadi gambaran awalnya.
Orca akan dapat melakukan misi dari pengintaian untuk menenggelamkan kapal dalam jarak yang sangat jauh. Kapal-kapal drone seperti Orca akan merevolusi perang di laut, menyediakan sistem senjata semi-sekali pakai yang murah yang dapat mengisi celah di garis depan atau pergi ke tempat yang terlalu berbahaya untuk kapal berawak.
Kontrak, yang diumumkan pada 14 Februari 2019 menetapkan Boeing akan mendapatkan US$ 43 juta untuk pembuatan, pengujian, dan pengiriman empat Orca dan elemen pendukung terkait. Itu berarti rata-rata US$10 juta per kapal.
Orca didasarkan pada kapal selam demonstrator Echo Voyager. Kapal selam diesel listrik tak berawak yang diluncurkan dan kembali ke dermaga. Kapal memiliki jangkauan 6.500 mil laut dan dapat berjalan selama berbulan-bulan. Orca memiliki berat 50 ton dengan panjang 8,5 kaki.
Sebagiamana ditulis Popular Mechanics, kapal memiliki fitur sistem navigasi inersia, sensor kedalaman, dan dapat ke permukaan untuk memperbaiki posisinya melalui GPS. Menggunakan komunikasi satelit untuk “menelepon ke rumah” dan melaporkan informasi atau menerima pesanan baru. Echo Voyager dapat menyelam hingga kedalaman maksimum 11.000 kaki dan memiliki kecepatan tertinggi delapan knot.
Salah satu bagian penting dari Echo Voyager adalah sistem muatan modular yang memungkinkannya untuk membawa muatan yang berbeda untuk mendukung berbagai misi. Kapal selam tak berawak memiliki volume kargo internal 2.000 kaki kubik dengan panjang maksimum 34 kaki dan kapasitas delapan ton. Dia juga dapat mendukung muatan eksternal yang tergantung di lambung kapal.

Seberapa peningkatan Orca dibandingkan Echo Voyager tidak diketahui. US Naval Institute News mengatakan Orca akan mampu melakukan misi penanggulangan ranjau, perang anti-kapal selam, perang anti-permukaan, perang elektronik dan misi serangan darat. Orca dapat membawa muatan sonar, mengendus-endus kapal selam musuh dan kemudian mengirimkan data lokasi ke helikopter dan kapal permukaan sekutunya.
Orca bahkan bisa mengemas torpedo ringan Mk. 46 untuk menyerang kapal selam musuh sendiri. Bisa juga membawa torpedo berat Mk. 48 untuk menyerang kapal permukaan, atau bahkan misil anti kapal. Orca dapat menurunkan kargo di dasar laut, mendeteksi, atau bahkan meletakkan ranjau. Sistem payload perangkat keras modular dan perangkat lunak arsitektur terbuka memastikan Orca dapat dikonfigurasi dengan cepat berdasarkan kebutuhan.
Untuk misi seperti perang anti-kapal selam, lusinan Orca bisa memenuhi daerah yang lebih baik daripada kapal permukaan tunggal atau bahkan mungkin kapal selam berawak. Satu kru berbasis darat dapat mengendalikan beberapa Orca, memungkinkan kapal selam otonom beroperasi secara mandiri selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu pada suatu waktu sebelum mengirimkan perintah baru.
Manfaat lain dari kapal selam tak berawak bahwa mereka dapat beroperasi di perairan berbahaya tanpa membahayakan nyawa manusia. Orca bisa berpura-pura menjadi kapal selam ukuran penuh, menunggu kapal selam musuh untuk menjadi sasaran tembak lawan sementara kapal selam serangan nuklir kelas Virginia menunggu penyergapan.
Orca dapat melakukan misi berbahaya seperti meletakkan ranjau di perairan yang dijaga ketat. Sekali lagi jika Anda ingin menyaksikan bagaimana masa depan perang laut maka awasi Orca.