Meski Rusia menyebut sistem pertahanan udara Suriah berhasil menghalau serangan udara Israel beberapa waktu lalu, tetapi fakta membuktikan sejumlah rudal tetap lolos. Setidaknya ada dua bukti bahwa rudal Israel lolos adalah pengakuan Suriah ada kerusakan di Bandara Damaskus yang jadi sasaran serangan.
Bukti kedua video yang dirilis Israel menunjukkan sebuah, atau bahkan beberapa sistem pertahanan udara Pantsir-S1 Suriah dengan telak dihantam rudal.
Ini bukan kali pertama Israel merilis rekaman yang menggambarkan Pantsir-S1 jadi sasaran empuk serangan udara.
Pada Mei 2018 sebuah rekaman itu berasal dari kamera yang dipasang di proyektil Israel secar jelas menampakkan baterai anti-pesawat Pantsir-S1 yang oleh NATO disebut sebagai SA22 jadi sasaran serangan.
Bagaimana sebenarnya sejarah Pantsir-S1? Apa misinya dan bagaimana kemampuannya? Mari membahas dengan lebih detil.
Sistem pertahanan udara Pantsir S1 cukup terkenal karena kombinasi unik antara senjata antipesawat dan SAM.
Jejak akar Pantsir S1 mulai ada pada tahun 1970-an dan 80-an ketika Amerika mulai mengandalkan helikopter AH-64 dan pesawat serangan A-10 untuk menghancurkan formasi lapis baja Soviet. Pesawat ini mengandalkan serangan tingkat rendah untuk menyerang kendaraan lapis baja dan mampu melarikan diri dengan aman sebelum SAM Soviet berhasil dapat mengunci mereka.
Kebutuhan sistem anti access reaksi cepat yang bisa menghancurkan ancaman udara dengan waktu respon minimum menjadi dibutuhkan.

Kebutuhan ini kemudian mengakibatkan pengembangan sistem Area Denial Tungushka yang menggunakan kombinasi 2 senjata senjata AA 30 mm dan 8 SAM untuk menemani tank Soviet ke medan perang. Sistem ini akhirnya mendegradasi efektivitas serangan pesawat USAF dan mampu menembak jatuh mereka dengan mudah.
Tungushka diproduksi massal untuk tentara Soviet dan telah sukses ekspor juga. Pantsir sebenarnya adalah Tungushka yang sangat ditingkatkan dengan rudal dan sistem elektronik yang lebih baik, dan terpasang pada chassis berroda.
Secara teknis, Pantsir S1 diklasifikasikan sebagai SPAAG-M ( Self Propelled Anti-Aircraft Gun – Missile) karena dipasang pada platform self-propelled, yakni truk Kamaz 8 × 8 dan memiliki senjata dan rudal untuk terlibat dengan target.
Sistem ini memberikan kemampuan untuk terlibat pada target ketinggian tinggi dan jauh dikombinasikan dengan kemampuan menembak sasaran terbang rendah dan jarak pendek. Memiliki 6 SAM dan dual meriam 30 mm di setiap sisi turret dengan total 12 rudal dan empat senjata.