More

    Inilah Yang Bisa Kita Ketahui dari Pembom Siluman H-20 China

    on

    |

    views

    and

    comments

    Baru-baru ini media China mengumumkan bahwa Beijing akan segera menungkap secara resmi pembom siluman H-20. Pesawat akan dipamerkan dalam parade memperingati ulang tahun ke-70 Angkatan Udara Pembebasan Rakyat China (PLAAF)

    Bagaimana wujud dari bomber ini masih menjadi rahasia dan memunculkan berbagai spekulasi. China sendiri pernah menggoda dunia ketika Perusahaan Industri Penerbangan Xi’an merilis video promosi pada Mei 2018 yang sangat mirip dengan iklan Northrop Grumman ketika mengundang penasaran dengan pembom siluman B-21. Iklan itu menggambarkan pembom sayap terbang terselubung di detik-detik terakhirnya. Hal ini memunculkan spekulasi H-20 kemungkinan akan mirip dengan B-2 atau B-21.

    Jika H-20 memiliki jangkauan dan karakteristik stealth mirip dengan B-2 maka hal itu bisa mengubah kalkulus strategis antara Amerika Serikat dan China dengan mengekspos pangkalan dan armada Amerika di seluruh Pasifik dari kemungkinan serangan udara kejutan.

    Hanya tiga negara yang saat ini membangun dan menerbangkan pembom strategis besar yang dapat menyerang sasaran di seluruh dunia yakni Amerika Serikat, Rusia dan China.

    Pembom strategis masuk akal bagi Cina karena Beijing melihat dominasi bagian barat Samudra Pasifik sebagai hal yang penting untuk keamanannya karena sejarah invasi maritim, dan tantangan yang ditimbulkan oleh Amerika Serikat pada khususnya.

    Kedua kekuatan super dipisahkan oleh lima hingga enam ribu mil samudra dan Amerika Serikat telah menghabiskan abad terakhir mengembangkan jaringan di wilayah pulau seperti Guam, pangkalan militer asing di Asia Timur dan kapal induk yang dapat memproyeksikan udara dan kekuatan laut di rentang itu.

    Xi’an Aviation, perusahaan yang membangun H-20, juga membangun jet pembom strategis H-6, tiruan Tu-16 Badger Soviet yang dibangun era 1950-an. H-6 baru-baru ini ditingkatkan dengan avionik modern, kemampuan pengisian bahan bakar udara dan rudal jelajah di kemudian hari.

    Analis Andreas Rupprecht melaporkan bahwa Cina mempertimbangkan mengembangkan bomber supersonik saat akhir Perang Dingin yang mirip dengan B-1 Amerika atau Tu-160 Rusia yang disebut JH-XX.

    Arahnya adalah melahirkan bom besar dengan kecepatan tinggi dan kemampuan ketinggian rendah dengan mengabaikan teknologi siluman. Namun, pendekatan semacam itu sudah dianggap sangat rentan melawan jet tempur modern dan pertahanan udara pada akhir abad ke-20. Sebuah sampul majalah China menampilkan gambar konsep JH-XX pada tahun 2013, tetapi proyek tersebut tampaknya telah disisihkan untuk saat ini.

    Sebaliknya, Angkatan Udara China memilih untuk mengejar pendekatan yang lebih ambisius yakni membangun sayap terbang yang lebih lambat tetapi jauh lebih siluman seperti B-2 Amerika dan B-21 Raider yang akan datang. Keuntungan khusus sayap terbang besar adalah mereka kurang rentan terhadap deteksi radar bandwidth rendah, seperti yang ada di pesawat radar E-2 Hawkeye Angkatan Laut Amerika, yang efektif dalam mendeteksi jet tempur siluman yang lebih kecil.

    Ada dua prasarat yang mendahului China sebelum membangun bomber siluman ini. Pertama adalah penguasaan teknologi siluman yang dikembangkan dengan pembangunan pesawat tempur siluman J-20 dan J-31. Prasyarat lain adalah kemampuan membangun pesawat besar yang kemudian melahirkan Y-20 yang dibangun Xi’an.

    Menurut sebuah studi oleh Rick Joe di The Diplomat, media China mulai berspekulasi tentang H-20 pada awal 2010-an. Karakteristik yang digambarkan termasuk penggunaan empat turbofan WS-10A Taihang non-afterburn yang diinstal dengan model tenggelam ke bagian atas permukaan sayap dengan lubang berbentuk gergaji untuk menjaga sifat siluman. Perlu dicatat bahwa WS-10 telah dilanda masalah besar, tetapi itu tidak menghentikan China dari memproduksi pesawat tempur menggunakan mesin tersebut, dengan hasil yang diduga bermasalah.

    Pembom strategis baru ini diharapkan memiliki radius tempur maksimum tanpa pengisian bahan bakar melebihi 5.000 mil. Sementara muatan akan berada antara antara H-6 yang bisa membawa 10 ton dan B-2 dengan daya angkut 23 ton.

    Kemampuan ini penting karena H-20 dilaporkan dirancang untuk menyerang target di luar “cincin pulau kedua” yang mencakup pangkalan Amerika di Jepang, Guam, Filipina, dan sebagainya dari pangkalan di China daratan. Rantai pulau ketiga meluas ke Hawaii dan pesisir Australia.

    Jika ada konflik Amerika-China, metode terbaik untuk menetralisir kekuatan udara Amerika adalah menghancurkannya pangkalan darat atau kapal induk terutama pada jam-jam awal perang. Meski rudal balistik dan pembom H-6 sudah dapat berkontribusi dengan rudal jarak jauh,  mereka akan rentan terhadap deteksi dan intersepsi mengingat peringatan yang memadai.

    Sebuah pembom stealth bisa terbang lebih dekat ke target sebelum melepaskan senjatanya, memberi sistem pertahanan lawan sedikit waktu untuk bereaksi.  Serangan awal mungkin sebenarnya fokus pada radar pertahanan udara, guna membuka pintu untuk gelombang serangan selanjutnya yang tidak perlu terlalu mengandalkan kemampuan siluman.

    H-20 juga kemungkinan akan mampu membawa senjata nuklir hingga akhirnya memberi China kemampuan penuh triad nuklir yakni kapal selam, rudal balistik dan pembom. Meskipun H-6 adalah pembom nuklir, pesawat ini tidak lagi dikonfigurasikan untuk serangan nuklir, meskipun itu dapat berubah jika peluncur berujung nuklir atau rudal balistik diluncurkan.

    Beijing merasa gugup bahwa kemampuan pertahanan rudal balistik Amerika yang terbatas pada akhirnya akan menjadi cukup untuk melawan ICBM dan senjata SLBM kecil China. Penambahan pembom siluman akan berkontribusi terhadap pencegahan nuklir China dengan menambahkan vektor serangan nuklir baru yang sulit dihentikan bahwa pertahanan Amerika.

    Beberapa publikasi China juga berpendapat bahwa H-20 akan melakukan tugas ganda sebagai jaringan pengintaian dan kontrol komando & platform yang mirip dengan jet tempur siluman F-35 Amerika.  Ini masuk akal, karena China telah mengembangkan beragam persenjataan rudal jarak jauh, darat, dan laut, tetapi tidak memiliki jaringan pengintaian yang kuat untuk membentuk rantai pembunuh yang mengarahkan rudal ini ke target yang jauh.

    Secara teoritis, sebuah H-20 bisa melaju ke depan, memata-matai posisi aset berbasis laut menggunakan radar AESA  dan mengirimkan informasi itu ke ratusan platform serangan yang berjarak ribuan mil jauhnya. H-20 juga bisa digunakan untuk peperangan elektronik atau untuk senjata energi.

    Tetapi semua masih dugaan-dugaan sampai wujud pesawat benar-benar muncul sehingga analis bisa mulai bisa menilai bagaimana sebenarnya kemampuan pesawat tersebut. Setelah terungkap, analis akan mencurahkan fokusnya pada geometri dan berbagai bagian pesawat pesawat untuk memperkirakan seberapa tersembunyi sebenarnya. Namun, analisis eksternal jelas tidak dapat memberikan penilaian penuh, karena bagaimanapun kualitas bahan penyerap radar yang dilapiskan pada permukaan, dan kecanggihan manufaktur termasuk hal pemasangan sekrup  juga akan memiliki dampak besar pada penampang radar. Belum lagi jika bicara soal sensor dan radarnya.

    Bagaimanapun H-20 telah mengundang banyak spekulasi dan rasa penasaran. Jadi mari kita tunggu saat pesawat itu benar-benar muncul nanti.

    Sumber: National Interest

    Share this
    Tags

    Must-read

    Sebagian Misi Kami Melawan Channel Maling Berhasil

    Sekitar 3 tahun Channel JejakTapak di Youtube ada. Misi pertama dari dibuatnya channel tersebut karena banyak naskah dari Jejaktapak.com dicuri oleh para channel militer...

    Rudal Israel dan Houhti Kejar-kejaran di Langit Tel Aviv

    https://www.youtube.com/watch?v=jkIJeT_aR5AKelompok Houthi Yaman secara mengejutkan melakukan serangan rudal balistik ke Israel. Serangan membuat ribuan warga Tel Aviv panic dan berlarian mencari tempat perlindungan. Serangan dilakukan...

    3 Gudang Senjata Besar Rusia Benar-Benar Berantakan

    Serangan drone Ukraina mengakibatkan tiga gudang penyimpanan amunisi Rusia benar-benar rusak parah. Jelas ini sebuah kerugian besar bagi Moskow. Serangan drone Ukraina menyasar dua gudang...

    Recent articles

    More like this