Sampai diperkenalkannya mesin modern, hewan telah memainkan banyak peran dalam perang. Sebagai contoh Mongol menggunakan kuda hingga menjadikan mereka di bawah Genghis Khan dan jenderalnya mengukir kekaisaran darat terbesar yang pernah dikenal.
Dalam buku Beasts of War: The Militarization of Animals yang ditulis Jared Eglan terdsapat sejumlah binatang yang secara menakjubkan memainkan peran militer. Dari pasukan tempur hingga mata-mata bahkan pemandu rudal. Dan berikut sembilan hewan dalam misi penting dalam perang. Berikut sembilan di antara binatang yang digunakan dalam perang di luar kuda.
Gajah Perang
Dengan tubuh besar dan taring menakutkan Gajah telah bekerja dalam perang sejak zaman kuno. Unit Elephantry pertama kali didirikan di militer India, tetapi kemudian jenderal yang terkenal termasuk Pyrrhus Epirus, Hannibal, dan Alexander The Great semua menggunakan gajah untuk menghancurkan lawan-lawan mereka.
Gajah perang biasanya ditempatkan di tengah garisan, di mana binatang-binatang akan melabrak barisan musuh dengan kecepatan 20 mph. Mereka juga digunakan untuk membawa barang berat di medan yang sulit sebelum tank dan helikopter kemudian muncul jadi pilihan.
Tidak seperti kavaleri kuda, gajah tidak takut menerjang infanteri tombak, tubuhnya yang berotot akan lebih mampu menahan tombak dibandingkan kuda. Praktis hanya tembakan meriam yang bisa melawan mereka kala itu karena hewan-hewan raksasa ini juga tahan terhadap senapan api.
Militer masih menggunakan gajah hingga era moderen. Seperti pada 1987 pasukan Irak diduga menggunakan gajah guna mengangkut persenjataan berat untuk digunakan di Kirkuk.
Lumba-Lumba Pemburu Ranjau
Pada tahun 1960, Angkatan Laut Amerika memulai studi pertama pada lumba-lumba. Pada awalnya, studi terbatas pada pengujian bagaimana lumba-lumba yang begitu hidrodinamik dengan upaya menerapkan temuan terhadap peningkatan kinerja torpedo.
Namun, pada tahun 1967 Program Mamalia Marinir Angkatan Laut AS berkembang menjadi sebuah proyek besar. Program, yang masih berlangsung hingga saat ini mulai melatih lumba-lumba untuk berburu ranjau. Dalam kasus perburuan ranjau, lumba-lumba dilatih untuk mencari ranjau bawah air dan melepaskan pelampung di lokasi yang ditemuki tersebut hingga memungkinkan Angkatan Laut secara aman bisa menyingkirkannya.
Selama Perang Irak pada tahun 2003, operasi lumba-lumba berhasil membersihkan lebih dari 100 ranjau di pelabuhan Umm Qasr.
Selain itu, lumba-lumba telah dilatih untuk menjaga pelabuhan terhadap penyelam musuh. Ketika seorang penyelam mendekati, lumba-lumba terlatih akan menempatkan pelampung ke punggung seseorang yang menyeret mereka ke permukaan.
“Hewan ini dirilis hampir setiap hari ke laut terbuka, dan sejak program ini dimulai, hanya beberapa hewan belum kembali,” menurut Angkatan Laut.