Jepang dan China telah terjebak pada konflik yang berpusat pada pulua Senkaku di Laut China Timur. Pulau tidak berpenghuni ini oleh China dikenal sebagai Diaoyu dan merupakan titik yang strategis.
Beijing telah lama menuntut agar pulau-pulau tersebut berada di bawah kendalinya dan tampak jelas mereka bersiap untuk bentrokan besar-besaran dengan tetangganya.
Hubungan antara Jepang dan China jatuh ke posisi terendah baru di tahun 2012 ketika Tokyo “menasionalisasi” banyak pulau. Ketegangan semakin tinggi karena rencana Jepang untuk membuka sebuah pameran yang menyoroti hak-haknya di pulau-pulau itu.
Zack Cooper, seorang peneliti senior di Centre for Strategic and International Studies mengklaim bahwa China tidak meluncurkan serangan besar karena adanya aliansi militer Tokyo dengan Washington.”Jika aliansi Amerika-Jepang tidak ada, China akan mendorong lebih keras,” katanya sebagaimana dilaporkan Daily Star Minggu 28 Januari 2018.
“Kedua negara [Amerika dan Jepang] tahu dengan melihat skala dan kecepatan modernisasi militer China, ini [serangan] hanya masalah waktu sebelum China mampu mengalahkan Jepang di sebagian besar wilayah persaingan militer.”
Presiden AS Donald Trump telah berjanji untuk melindungi Jepang dari serangan apapun. Namun, hal itu tidak menghentikan China untuk mengirim kapal selam dan kapal perang ke pulau yang disengketakan.
“Untuk beberapa waktu sekarang, beberapa negara telah menggunakan dalih kebebasan navigasi untuk membawa pesawat dan armada mereka ke arah Laut Cina Selatan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang.
“Sebenarnya, saya pikir ini adalah perilaku yang telah mengancam kedaulatan negara-negara Laut Cina Selatan.”