Selama dua dekade terakhir, situasi geopolitik di wilayah Laut Hitam terbilang cukup rumit. Pertama, jatuhnya sistem sosialis dan kehadiran pemain baru, seperti Georgia dan Ukraina, menciptakan perubahan di wilayah tersebut. Negara baru lainnya, seperti Moldova, Armenia, dan Azerbaijan, tidak bersinggungan langsung dengan laut tersebut, namun memiliki hubungan sejarah dengan negara-negara di wilayah Laut Hitam dan menjadi bagian dari mereka.
Negara yang paling maju di wilayah tersebut adalah Rusia dan Turki, sedangkan negara yang terbilang miskin di area Laut Hitam, tak berubah sejak dekade lalu, yakni Georgia, Armenia, dan Moldova. Dalam waktu yang bersamaan, selama beberapa tahun terakhir Azerbaijan—berkat hasil minyaknya—berkembang cukup baik. Sementara posisi Ukraina turun drastis, tertinggal oleh tetangga-tetangga baratnya (kecuali Moldova).
Kedua, situasi geopolitik di Laut Hitam menjadi lebih rumit karena lemahnya pemain baru dan kehadiran beberapa konflik internasional yang belum terselesaikan. Wilayah ini memiliki empat negara yang belum diakui oleh dunia, yakni Republik Dniester, Abkhazia, Osetia Selatan, dan Nagorno-Karabakh.
Dampak dari ketidakstabilan politik membuat situasi geopolitik di Laut Hitam ikut kacau, seperti yang terjadi di Ukraina, yang dilanda krisis politik serius selama sepuluh tahun terakhir.
Ketiga, globalisasi telah mengaburkan dan memperluas batas wilayah Laut Hitam, menyertakan pemain nonregional, seperti perusahaan transnasional, gerakan nasional, dan komunitas pengungsi. Hasilnya, wilayah Laut Hitam menjadi prioritas dari sudut pandang ekonomi dan politik dunia.
Secara objektif, proses ini berawal dari ditemukannya cadangan migas yang melimpah di Laut Kaspia, di Kazakhstan dan Asia Tengah. Kawasan ini juga menjadi koridor transit pasokan energi di antara wilayah Kaspia, Eropa, dan belahan dunia lain. Kazakhstan, Asia Tengah, dan China banyak terlibat dalam konteks ini.
Next: Rute Baru
Rute Baru
Bagi banyak negara di wilayah Laut Hitam, transit menjadi pemicu utama perkembangan negara, baik secara ekonomi maupun sosial. Kompetisi untuk investasi dan konstruksi jalur pipa di wilayah ini cukup akut.
Segera setelah Uni Soviet bubar, monopoli Rusia dalam transit pasokan energi dari wilayah Kaspia dan Asia Tengah berakhir, karena negara-negara tersebut menemukan rute baru menuju China dan wilayah Asia Pasifik.
Hal ini juga sejalan dengan penemuan sumber daya minyak dan gas baru, yang membuat wilayah ini terbilang lebih menarik bagi pemain besar dunia seperti AS dan Uni Eropa.
AS mendukung keanggotaan NATO bagi Georgia dan Ukraina. Moskow melihat hal tersebut sebagai ancaman bagi keamanan nasionalnya. Bagi AS, wilayah Laut Hitam dan Kaukasus Selatan memainkan peran strategis dan mengakomodasi kepentingan AS di wilayah Timur Tengah, operasi militer di Afganistan dan Irak, serta konfrontasi dengan Iran. Keseimbangan kekuatan di wilayah Laut Hitam telah berubah sejak Romania dan Bulgaria bergabung dengan NATO.
Banyak negara di wilayah tersebut juga ingin bergabung dengan Uni Eropa. Turki telah mengincar keanggotan Uni Eropa sejak bertahun-tahun. Moldova dan Ukraina juga berjalan ke arah yang sama. Diplomasi Eropa bergantung pada situasi ekonomi dan dukungan ‘soft power’ melalui organisasi nonpemerintah, proses demokrasi, serta keterlibatan dalam penyelesaian konflik di sekitar negara-negara yang belum diakui.
Saat ini, batasan wilayah Laut Hitam ditetapkan oleh organisasi Black Sea Economic Cooperation (BSEC), yakni terdiri dari 12 negara. Azerbaijan, Armenia, Moldova, Albania, Yunani, dan Serbia juga merupakan anggota BSEC. Meski BSEC tergolong sukses, anggotanya kerap melihat hubungan mereka dengan ‘pusat kekuatan’ di luar mereka lebih penting dibanding ikatan regional.