Rute Baru
Bagi banyak negara di wilayah Laut Hitam, transit menjadi pemicu utama perkembangan negara, baik secara ekonomi maupun sosial. Kompetisi untuk investasi dan konstruksi jalur pipa di wilayah ini cukup akut.
Segera setelah Uni Soviet bubar, monopoli Rusia dalam transit pasokan energi dari wilayah Kaspia dan Asia Tengah berakhir, karena negara-negara tersebut menemukan rute baru menuju China dan wilayah Asia Pasifik.
Hal ini juga sejalan dengan penemuan sumber daya minyak dan gas baru, yang membuat wilayah ini terbilang lebih menarik bagi pemain besar dunia seperti AS dan Uni Eropa.
AS mendukung keanggotaan NATO bagi Georgia dan Ukraina. Moskow melihat hal tersebut sebagai ancaman bagi keamanan nasionalnya. Bagi AS, wilayah Laut Hitam dan Kaukasus Selatan memainkan peran strategis dan mengakomodasi kepentingan AS di wilayah Timur Tengah, operasi militer di Afganistan dan Irak, serta konfrontasi dengan Iran. Keseimbangan kekuatan di wilayah Laut Hitam telah berubah sejak Romania dan Bulgaria bergabung dengan NATO.
Banyak negara di wilayah tersebut juga ingin bergabung dengan Uni Eropa. Turki telah mengincar keanggotan Uni Eropa sejak bertahun-tahun. Moldova dan Ukraina juga berjalan ke arah yang sama. Diplomasi Eropa bergantung pada situasi ekonomi dan dukungan ‘soft power’ melalui organisasi nonpemerintah, proses demokrasi, serta keterlibatan dalam penyelesaian konflik di sekitar negara-negara yang belum diakui.
Saat ini, batasan wilayah Laut Hitam ditetapkan oleh organisasi Black Sea Economic Cooperation (BSEC), yakni terdiri dari 12 negara. Azerbaijan, Armenia, Moldova, Albania, Yunani, dan Serbia juga merupakan anggota BSEC. Meski BSEC tergolong sukses, anggotanya kerap melihat hubungan mereka dengan ‘pusat kekuatan’ di luar mereka lebih penting dibanding ikatan regional.