Vasili Arkhipov, yang mencegah eskalasi perang dingin dengan menolak meluncurkan torpedo nuklir melawan pasukan AS, akan diberikan hadiah ‘Future of Life’ baru.
Seorang perwira senior sebuah kapal selam Soviet dianugerahi penghargaan “Future of Life award” yang dari the Future of Life Insitute pada Jumat 27 Oktober 2017. Sebuah organisasi yang berbasis di Amerika. Ini bukan organisasi ecek-ecek kaerna dewan penasehatnya saja mencakup tokoh-tokoh besar seperti Elon Musk, raja astronom Prof Martin Rees, dan aktor Morgan Freeman. Lembaga ini didirikan dengan tujuan untuk mengatasi ancaman terhadap kemanusiaan
Lalu kenapa kru kapal selam Soviet yang mendapat penghargaan prestisius ini? Vasili Arkhipov dianggap telah menyelamatkan dunia karena tindakan beraninya mencegah pecahnya konflik nuklir. Tindakan heroiknya 55 tahun lalu telah mencegah bencana global.
Dikisahkan, pada 27 Oktober 1962, Vasili Alexandrovich Arkhipov berada di kapal selam B-59 Soviet di dekat Kuba ketika pasukan Amerika mulai menjatuhkan bom kedalaman yang tidak mematikan. Saat itu Amerika memblokadi Kuba terkait krisis rudal yang sangat menegangkan.
Bom dijatuhkan sebenarya dengan tujuan agar kapal selam Soviet mau muncul ke permukaan. Tetapi awak B-59 telah menilai apa yang dialami sebagai permulaan perang dunia ketiga.
Kru terjebak di kapal selam yang sangat panas karena AC tidak lagi berfungsi dan ketakutan akan mati. Tetapi ada yang tidak diketahui oleh kapal Amerika, bahwa B-59 menggendong senjata khusus di gudang senjata mereka yakni sebuah torpedo nuklir 10 kilotonne. Terlebih lagi, perwira tersebut memiliki izin untuk meluncurkannya tanpa menunggu persetujuan dari Moskow.
Dua perwira senior kapal tersebut – termasuk kapten, Valentin Savitsky – ingin meluncurkan rudal tersebut. Menurut sebuah laporan dari Arsip Keamanan Nasional AS, Savitsky berseru: “Kami akan meledakkan mereka sekarang! Kita akan mati, tapi kita akan menenggelamkan mereka semua – kita tidak akan menjadi armada yang memalukan. ”
Tetapi ada hal yang harus dicapai jika ingin meluncurkan torpedo yakni tiga perwira harus setuju semuanya. Akibatnya, situasi di ruang kontrol sangat tegang. Arkhipov menolak memberikan persetujuan atas peluncuran senjata tersebut dan menenangkan kaptennya. Dia berhasil dan torpedo tidak pernah dipecat. Kapal selam akhirnya memilih untuk muncul ke permukaan dan mundur dari perairan tersebut
Seandainya torpedo diluncurkan, nasib dunia akan sangat berbeda. Serangan tersebut mungkin akan memulai perang nuklir yang akan menyebabkan kehancuran global, dengan jumlah kematian sipil yang tak terbayangkan.

“Future of Life award adalah penghargaan yang diberikan untuk tindakan heroik yang telah sangat menyelamatkan umat manusia, dilakukan terlepas dari risiko pribadi dan tanpa imbalan pada saat itu,” kata Max Tegmark, profesor fisika di MIT dan pemimpin Future of Life Institute sebagaimana dikutip The Guardian.
Berbicara kepada Tegmark, putri Arkhipov, Elena Andriukova mengatakan bahwa keluarga tersebut berterima kasih atas penghargaan dan pengakuan atas tindakan Arkhipov.
“Dia selalu berpikir bahwa dia melakukan apa yang harus dia lakukan dan tidak pernah menganggap tindakannya sebagai bentuk kepahlawanan. Dia bertindak seperti orang yang tahu bencana macam apa yang bisa berasal dari radiasi, ” katanya. “Dia melakukan perannya untuk masa depan sehingga setiap orang bisa hidup di planet kita.”
Selain penghargaan Arkhipov juga mendapat hadiah sebesar US$ 50.000 yang diterima cucu Arkhipov, Sergei, dan Andriukova di Institute of Engineering and Technology Amerika Serikat Jumat 27 Oktober 2017 malam.
Dr Jonathan Colman, pakar krisis rudal Kuba di University of Central Lancashire, sepakat bahwa penghargaan tersebut sangat tepat diberikan.
“Meski ada laporan berbeda tentang apa yang terjadi di kapal B-59, jelas bahwa Arkhipov dan awak kapal beroperasi dalam kondisi penuh ketegangan dan kesulitan fisik yang ekstrem. Begitu ambang batas nuklir telah dilewati, sulit untuk membayangkan bahwa jin itu bisa dimasukkan kembali ke dalam botol, “katanya.
“Presiden Kennedy sangat khawatir tentang kemungkinan terjadi bentrokan antara kapal-kapal perang Amerika dan kapal selam Soviet di Karibia, dan sangat jelas bahwa ketakutannya dibenarkan,” Colman menambahkan, mencatat bahwa keputusan tertentu di tingkat operasional berada di luar jangkauan kontrolnya.
“Pada akhirnya, ini adalah keberuntungan bahwa krisis rudal berakhir tanpa konsekuensi yang paling mengerikan.”