Dunia Waspada, Korea Utara Kembali Uji Bom Nuklir

Dunia Waspada, Korea Utara Kembali Uji Bom Nuklir

Beberapa jam setelah memposting gambar Kim Jong Un yang terlihat memeriksa apa yang tampaknya merupakan hulu ledak termonuklir miniatur, Korea Utara melaksanakan uji coba nuklir keenam mereka pada Minggu 3 September 2017.

Ledakan terdeteksi melalui sensor seismik di seluruh wilayah, termasuk di Korea Selatan dan China. Terakhir kali Korea Utara meledakkan  perangkat setahun yang lalu, pada 9 September 2016.

Korea Selatan dan Survei Geologi Amerika mengatakan bahwa gempa  terdeteksi pada pukul 12:20 waktu setempat pada kedalaman yang sangat dangkal dan memiliki magnitudo 5,6.

Angka ini kemudian direvisi menjadi 5,7. Kemungkinan itu akan direvisi kembali  setelah lebih banyak data dikumpulkan. Awalnya dilaporkan bahwa ledakan kedua terdeteksi sesaat setelah yang pertama, namun laporan ini sejak itu telah dibantah oleh pemerintah Korea Selatan. Episentrum ini diperkirakan berada di lokasi uji coba nuklir Punggye-ri Korea Utara.

Ledakan terbaru ini jauh lebih kuat daripada tes di masa lalu.  Seluruh wilayah sekarang sudah waspada setelah uji nuklir terebut. Jepang telah diduga meluncurkan jet T4 untuk mengambil sampel pengambilan sampel udara untuk mengumpulkan data atmosfer di dekat Korea Utara.

Beberapa jam sebelumnya Korea Utara mengatakan telah mengembangkan bom hidrogen  berkekuatan sangat merusak . Sementara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berbicara melalui telepon membahas peningkatan anacaman nuklir.

Menurut kantor berita  Korea Utara, KCNA, pengembangan bom hidrogen itu dilakukan di tengah peningkatan ketegangan wilayah menyusul dua uji peluru kendali antar benua (ICBM) Pyongyang pada Juli, yang dapat terbang hingga sekitar 10.000 kilometer dan diperkirakan menjangkau beberapa bagian dari daratan utama Amerika Serikat.

Di bawah kepemimpinan generasi ketiga, Kim Jong-un, Korea Utara berusaha mengembangkan perangkat nuklir kecil dan ringan, yang sesuai dengan peluru kendali balistik jarak jauh tanpa mempengaruhi jangkauannya, sehingga mampu bertahan setelah kembali memasuki atmosfer Bumi.

Korea Utara, yang mengembangkan kegiatan nuklir dan peluru kendalinya meskipun bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB dan menyebabkan beberapa sanksi, “baru-baru ini berhasil” mendapat kemajuan dalam pengembangan bom hidrogen yang akan dimuat dalam ICBM, menurut laporan KCNA Minggu 3 September 2017.

“Bom-H, yang kekuatan peledaknya dapat disesuaikan dari puluhan kilo ton hingga ratusan kilo ton, merupakan senjata termonuklir bersifat multi fungsi dengan kekuatan perusak yang hebat, meskipun diledakkan bahkan di tempat yang tinggi untuk serangan EMP (Electromagnetic Pulse) super kuat guna menyerang sesuai dengan tujuan strategis,” kata KCNA.

“Semua komponen bom H merupakan buatan dalam negeri dan semua prosesnya dilakukan atas dasar Juche, sehingga memungkinkan negara untuk menghasilkan senjata nuklir yang kuat sebanyak yang diinginkan,” kata KCNA mengutip pernyataan Jong-un.

Juche adalah ideologi kemandirian Korea Utara, yang merupakan gabungan dari Marxisme dan nasionalisme kuat, yang diajarkan pendiri negara itu, Kim Il-sung, kakek pemimpin Korea Utara sekarang.

Negara tertutup itu menyatakan bahwa kegiatan pengembangan senjata mereka dibutuhkan untuk melawan agresi Amerika Serikat.

Korea Utara tidak memberikan bukti untuk pengakuan terakhirnya tersebut, dan Kim Dong-yub, seorang ahli militer di Institut Studi Timur Jauh pada Universitas Kyungnam, Seoul, merasa skeptis.

“Merujuk pada daya ledak puluhan sampai ratusan kilo ton, tampaknya itu bukanlah bom H yang sama sekali baru. Kemungkinan itu hanyalah perangkat nuklir yang diperkuat,” kata Dong-yub, mengacu pada sebuah bom atom yang menggunakan beberapa isotop hidrogen untuk meningkatkan daya ledak.

Daya ledak bom hidrogen dapat mencapai ribuan kilo ton, lebih kuat daripada bom nuklir yang terakhir di uji coba oleh Korea Utara pada September dengan kekuatan hanya sekitar 10 sampai 15 kilo ton, mirip dengan bom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, pada 1945.

Kedudukan Korut dan Korsel saat ini secara teknis masih dalam perang, karena kemelut 1950-1953 mereka berakhir dalam gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian. Utara berulang kali mengancam menghancurkan Selatan dan sekutu utamanya, Amerika Serikat.