Jepang berpeluang untuk melakukan ekspor peralatan pertahanan pertama setelah pemerintah mempertimbangkan menjual pesawat angkut terbaru Angkatan Udara Bela Diri, C-2, ke Uni Emirat Arab.
Sebagaimana dilaporkan The Nikkei Sabtu 26 Agustus 2017 pemerintah sudah menyediakan spesifikasi dan informasi terkait pesawat tersebut ke UAE. Sebelumnya kedua negara harus menyetujui sebuah perjanjian mengenai transfer peralatan dan teknologi pertahanan – sebuah langkah penting sebelum C-2 dapat dikirim ke UAE.
C-2, yang dikembangkan oleh Kawasaki Heavy Industries, memiliki daya jelajah 7,600km, kira-kira dua kali lipat dari C-130 Hercules yang dibangun Lockheed Martin, yang juga digunakan Angkatan Udara Jepang. Selain itu, C-2 bisa mengangkut 20 ton atau lebih, empat kali lebih banyak dari C-130.
C-2 cukup lebar untuk membawa kendaraan amfibi dan tempur, dan bisa menangani misi ke pulau-pulau terpencil. Harga pesawat sekitar US$ 173 juta.
Menurut seorang pejabat Kementerian Pertahanan Jepang, UEA mendekati Jepang untuk membeli beberapa C-2. Kementerian Pertahanan serta Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri telah memberikan informasi teknis ke UAE. Kedua pemerintah tersebut sekarang menegosiasikan harga akhir dan jumlah pesawat.
Jepang saat ini melarang ekspor peralatan dan teknologi pertahanan ke negara-negara yang terlibat dalam konflik, yang bisa menjadi masalah mengingat UEA adalah bagian dari koalisi pimpinan-Saudi yang menyerang Yaman.
Namun pejabat Kementerian Pertahanan lainnya mengatakan bahwa kesepakatan tersebut mungkin dapat dijalankan karena “UEA bukanlah negara yang memimpin intervensi” di Yaman.