Peluncur multi roket atau multiple rocket launchers (MRL) Tornado-S dijadwalkan akan menggantikan MRL Smerch yang saat ini digunakan Angkatan Bersenjata Rusia.
Tahun 2017 batch pertama sistem peluncuran roket Tornado-S dipasok ke Angkatan Bersenjata dan senjata berat ini pada akhirnya akan menjadi tulang punggung brigade artileri negara tersebut.
Meskipun saat ini senjata presisi tinggi dan senjata ‘cerdas’ banyak bermunculan, MLR tetap menjadi senjata yang efektif melawan target darat.
MRL digunakan oleh kedua pihak dalam konflik bersenjata di Donbass, Ukraina. Pasukan pemerintah Suriah secara luas juga menggunakan Grad dan Uragan buatan Rusia untuk menyerang posisi lawan.
Bahkan Amerika, yang selalu mengangung-agungkan senjata cerdas masih menggunakan sistem MLRS dan HIMARS di Irak dan Afghanistan.
Namun, MRL Barat harus diakui agak sulit bersaing dengan produk Rusia mengingat negara ini memiliki sejarah lama memimpin dalam pengembangan senjata semacam itu.
Anak dari Katyusha

BM-13 Katyusha disebut-sebut sebagai peluncur roket pertama Rusia. Pertama kali digunakan pada tanggal 14 Juli 1941 sebuah baterai MZ Katyusha hanya membutuhkan waktu delapan detik untuk melepaskan rudal pada konsentrasi tank Jerman sehingga mengubahnya menjadi tumpukan sampah yang terbakar.
Meski sistem peluncuran roket seperti BM-13 tidak akurat untuk menembak target secara langsung, peluncuran roket besar dan ekspolsif dengan tingkat tinggi telah memberikan efek psikologis pada musuh.
Dipasang di sebuah truk berat yang melepaskan tembakan hingga 48 roket dengan jarak hampir empat mil, Katyusha sangat terkenal di antara tentara Jerman. Mereka menamai Katyusha sebagai “Stalin’s Organ” atau Lolongan Stalin

Pengganti pascaperang Katyusha pertama dikenal sebagai BM-21 Grad, yang hanya membutuhkan waktu 20 detik untuk menembakkan 40 blast-fragmentation 122 mm dengan jangkauan 30 kilometer dan bisa menghancurkan 20 hektare wilayah musuh.
Uragan dan Smerch
MRL BM-27 Uragan, yang mulai dipasok ke Angkatan Darat Soviet pada tahun 1975 berbeda dengan pendahulunya Grad karena mereka memiliki lebih sedikit rel peluncuran (16 bukan 40), namun roket 220 mm dengan Hulu ledak 240 kg jauh lebih destruktif dan brutal dibandingkan Grad.
Uragan bisa memporak-porandakan area seluas 40 hektare dari jarak hingga 35 kilometer.

Sedangkan BM-30 Smerch yang diperkenalkan tahun 1987 lebih baik lagi. Secara luas disebut-sebut sebagai senjata paling kuat di sekitar, satu truk “Smerch” menghasilkan 12, 300 mm cluster, fragmentasi ledakan atau roket termobarik yang masing-masing memiliki berat sekitar 26 kilogram.
Sebuah serangan satu BM-30 cukup untuk menghancurkan 70 hektare wilayah musuh dari jarak antara 20 kilometer hingga 90 kilometer. Efek destruktif dari serangan enam Smerch sama dengan senjata nuklir taktis.
Melihat ke masa depan

Sistem peluncur terbaru yakni Tornado-G dan Tornado-S juga akan mengikuti jejak pendahulunya dengan terus meningkatkan kemampuan dalam merusak dan jarak serang.
Kedua sistem ini dilengkapi dengan kontrol tembakan dan peralatan komunikasi onboard yang canggih dan navigasi satelit GLONASS. Mereka menembakkan roket self-homing yang baru dikembangkan dengan hulu ledak cluster kumulatif yang sangat efektif melawan kendaraan lapis baja dan tank.
Menurut sebuah laporan tahunan oleh para ahli dari Institut Studi Strategis Internasional, Tornado-S di atas semua analog asingnya yang saat ini ada di dunia.
Baca juga:
Dari Katyusha Hingga Iskander, Inilah Artileri Terbaik dalam Sejarah Rusia