
Asal-usul dari kesepakatan senjata paling ironis di dunia berasal dari keputusan yang dibuat oleh salah satu orang kuat Third Reich, Hermann Göring.
Pada tahun 1938, Göring bertanggung jawab atas Nazi’s Four Year Plan, program pembangunan ekonomi dan peningkatan produksi senjata yang melanggar Perjanjian Versailles.
Pada saat yang sama, tujuan Hitler mengambil wilayah Eropa tanpa senjata bergerak cepat, termasuk aneksasi Cekoslovakia di bawah Perjanjian Munich. Di negara ini kemudian dibangun industri senjata di bawah kendali Nazi.
Göring kemudian memerintahkan Skoda Works berubah menjadi pabrik senjata yang disebut kompleks Hermann Göring Werke. Kompleks ini menjadi salah satu produksi senjata terkemuka untuk Reich.
Pabrik ini membuat ribuan senapan dan senapan mesin yang digunakan Jerman selama Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia II, Cekoslovakia diduduki oleh Soviet yang merebut senjata dan pabrik senjata Jerman.
Pada 1947, para pemimpin politik Yahudi tahu kemerdekaan hanya dapat dicapai melalui peperangan. Anehnya, Cekoslovakia yang dikuasai Komunis justru membuka kesempatan.
“Pemerintah Cekoslovakia setuju [menjual senjata ke Israel] karena mereka memiliki surplus besar senjata Jerman, beberapa di antaranya telah diproduksi di Cekoslovakia selama perang, dan karena mereka dibayar dalam dolar,” kata Martin van Creveld, seorang sejarawan militer Israel.
“Pada musim panas 1948, IDF memiliki cukup [senjata] untuk pasukannya, sehingga tidak ada lagi impor.”
Cekoslovakia menjual senjata ke Israel dengan persetujuan Joseph Stalin yang mungkin dengan berharap bahwa kesepakatan itu akan membujuk pemerintah Israel baru untuk bersandar ke arah hubungan yang erat dengan Uni Soviet. Tetapi hal itu tidak terjadi dan akhirnya Uni Soviet mengadopsi kebijakan luar negeri pro-Arab.
Akhirnya, Israel juga memperoleh senjata dari sumber lain, termasuk senjata Sten Inggris, howitzer 65 milimeter Prancis dan sisa lainnya dari Perang Dunia II.
Tapi senjata Nazi tetap tinggal di gudang Israel. Israel menjuluki karabiner 98 bolt-action dengan senapan P-18. Dan mengganti bilik senjata dengan peluru 7,62 x 51 milimeter standar NATO. Senjata ini masih dalam layanan aktif selama Krisis Suez 1956 sebelum kemudian dijadikan senjata cadangan oleh IDF. Banyak dari senapan Jerman ini tetap digunakan Israel sampai 1970-an.