Hina Indonesia, Australia: Kami Menyesal

Hina Indonesia, Australia: Kami Menyesal

Australia menyatakan penyesalan terhadap Indonesia dan berjanji akan menggelar penyelidikan terkait temuan bahan ajar yang menyinggung sehingga membuat Jakarta membatalkan hubungan pertahanan kedua negara.

“Kami menyatakan penyesalan atas peristiwa ini. Saya berpendapat, adalah hal yang wajar bagi negara sahabat untuk menyatakan protes mereka,” kata Menteri Pertahanan Australia Marise Payne  kepada sejumlah wartawan di Sydney Kamis 5 Januari 2016. Dia  mengaku telah melakukan penyelidikan atas bahan ajar yang ditemukan di Barak Campbell, Perth.

Australia akan memaparkan hasil investigasi itu kepada pihak pemerintah dan militer Indonesia, kata Payne. Payne menolak mengungkap apa yang membuat Indonesia merasa terhina. Sejumlah media melaporkan bahwa seorang pejabat militer Indonesia yang tengah mengikuti pelatihan di Australia tersinggung atas sebuah poster yang mempertanyakan kedaulatan Indonesia atas wilayah barat Papua.

Ada juga laporan dari pejabat sama yang menemukan sejumlah dokumen penghinaan terhadap ideologi dasar Tentara Nasional Indonesia. Papua memang merupakan isu yang sensitif bagi pemerintah dan militer.

“Tentu saja kami mengakui kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia. Ini adalah sikap tegas kami,” kata Payne.

Dia mengatakan bahwa semua materi bahan ajar yang sensitif telah dihapus dan telah disesuaikan secara budaya.

Pada 2013 lalu, Indonesia juga sempat memutus hubungan militer dengan Australia setelah terungkap bahwa pihak intelejen Canberra memata-matai telepon genggam milik presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Australia saat ini membutuhkan bantuan Indonesia untuk turut mendukung kebijakan imigrasi yang kontroversial, termasuk di antaranya mengusir kapal-kapal yang ditumpangi oleh para pencari suaka.

Pada Rabu Indonesia membenarkan telah menghentikan sementara kerja sama militer dengan Australia sejak Desember.

Kerja sama militer antara kedua negara mencakup berbagai macam aktivitas, dari penanggulangan terorisme sampai perlindungan wilayah perbatasan.

Selama beberapa tahun terakhir hubungan militer antara Jakarta dan Canberra memang selalu naik turun. Australia sempat menghentikan pelatihan bersama dengan pasukan khusus Kopassus akibat dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Timor Leste pada 1999, saat wilayah itu tengah memperjuangkan kemerdekaan dari Indonesia.

Hubungan kembali normal setelah tahun 2002 usai serangan bom di dua klub malam di Bali yang menewaskan 202 orang, 88 di antaranya warga Australia.