Site icon

Apa Iya Kapal Termahal di Dunia Ini akan Datang dan Langsung Usang?

USS Gerald Ford

Kapal induk terbaru, terbesar dan termahal milik Angkatan Laut AS, USS Gerald Ford, saat selesai, akan bergabung dengan jajaran kapal perang paling canggih di dunia.

Kapal induk ini akan membawa sayap tempur dan senjata. Kapal ini juga akan dikawal oleh beberapa kapal angkatan laut paling kuat di planet ini. Namun, kapal seharga US$15 miliar dan menjadi kapal paling mahal dalam sejarah Angkatan Laut di Amerika itu mungkin justru akan datang dalam keadaan usang dan mudah untuk dihancurkan.

Beberapa artikel terbaru  telah menunjukkan bahwa Rusia dan China terus mengembangkan kemampuan rudal mereka. Sesuatu yang dianggap Amerika sebagai tantangan terbesar yang dihadap oleh mereka di masa depan.

Kedua negara tersebut terus mengembangkan platform rudal yang bisa menyerang dari jarak jauh secara massal dari beberapa domain. Senjata tersebut, jika akurat, menggunakan kru yang sangat terlatih dikombinasikan dengan sarana untuk menemukan target mereka di lautan yang luas maka bisa mengubah kapal induk Amerika menjadi kuburan bernilai miliran dolar untuk ribuan pelaut AS.

Dua artikel baru-baru ini yang memperkuat tantangan besar ini salah satunya yang dimuat di Politico, Jerry Hendrix, Senior Fellow dan Director of the Defense Strategies and Assessments Program at the Center for a New American Security secara terbuka menyatakan ketakutannya terhadap tantangan yang dihadapi dalam jangka panjang oleh Angkatan Laut AS.

Dia mencatat bahwa keputusan Angkatan Laut pada kapal induk saat ini akan mempengaruhi kekuatan angkatan laut AS selama beberapa dekade. Operator-operator ini diharapkan akan tetap dalam pertempuran efektif hingga 2065 atau lebih dari 150 tahun sejak ide sebuah kapal induk pertama kali muncul.

Dia mencatat: “. . . kebanyakan platform senjata hanya efektif untuk waktu yang terbatas, selang yang mendapat lebih pendek. Tapi sampai beberapa tahun terakhir, kita telah menantang peluang, terus menunjukkan kekuatan militer Amerika di seluruh dunia tanpa tantangan dari musuh-musuh kita.

Periode itu mungkin telah berakhir ketika China dan Rusia memperkenalkan senjata baru  yang disebut sebagai pembunuh kapal induk. Rudal seharga US$ 10 juta sampai US$20 juta untuk setiap unitnya dan dapat menargetkan kapal induk bernilai miliaran dolar AS dari jarak 900 mil dari pantai. ”

Next: Rentang Terbang Kian Pendek

Rentang Terbang Kian Pendek

Pada saat yang sama, keputusan Angkatan Laut telah memotong jarak serang pesawat kapal induk setengah menjadi 496 mil. Jika kita ingin menyerang musuh dengan pesawat ini, militer harus menempatkan kapal induk dalam jangkauan pembunuh kapal induk mereka. Ini akan menjadi misi penuh dengan bahaya untuk kapal dan awaknya.

Dalam artikel lain di World Politics Review, Mark Cancian mantan pejabat senior Pentagon yang saat ini menjabat sebagai penasihat senior CSIS International Security Program, membuat argumen yang sangat mirip seperti Hendrix. Cancian menjelaskan:

“Semakin banyak kritik yang mempertanyakan apakah kapal induk telah menjadi terlalu rentan. Memang tidak ada kapal induk yang rusak parah oleh serangan musuh sejak Perang Dunia II, namun masa depan, seperti biasa, tidak pasti. Kapal induk dibangun dengan banyak fitur lebih mampu dan kemampuan bertahan hidup. Para pendukung mencatat bahwa tembakan kecelakaan di USS Forrestal pada tahun 1967, kapal bertahan dengan ledakan setara sembilan bom. Di sisi lain, senjata dari musuh yang sangat canggih mungkin bisa menembus kelompok tempur dan menempatkan kapal induk dalam bahaya.

“Di tengah perselisihan kegunaan operator  sebagian besar pengamat setuju bahwa pesawat mereka terlalu pendek dalam kemampuan kisaran terbang. Selama tahun 1980, rata-rata rentang pesawat adalah 900 mil. Sekarang 500 mil dan tidak akan lebih baik dengan pengenalan F-35. Dalam lingkungan yang permisif [seperti pemboman ISIS], hal  ini bukan masalah, karena pesawat dapat mengisi bahan bakar untuk memperluas jangkauan mereka. Dalam lingkungan dengan ancaman tinggi [seperti perang dengan China atau Rusia], pengisian bahan bakar mungkin tidak mungkin  [dilakukan]. ”

Next: Apa Solusinya?

Apa Solusinya?

USS Gerald Ford/US Navy

Jadi apa solusinya?  Harry Kazianis,  Senior Fellow (non-resident) Defense Policy di Center for the National Interest dan Fellow untuk National Security Affairs di The Potomac Foundation dalam tulisannya di National Interest menyebutkan kapal induk perlu sebuah platform serang yang mampu menyerang target dari jarak jauh.

Dengan pertimbangan rudal anti kapal DF-26 China memiliki jangkauan berbagai 2.500 mil maka terbang jarak jauh dengan memanfaatkan stealth untuk menyelinap ke daerah-daerah yang dilindungi oleh sistem pertahanan canggih menjadi sangat penting.

Tetapi hal ini tidak dilakukan Pentagon untuk mengubah upaya pembangunan drone tempur berbasis kapal induk menjadi drone pengisian bahan bakar. Sementara logika jelas dengan medan pertempuran yang digambarkan di atas pesawat berbasis kapal induk seperti F/A-18 dan nantinya F-35 akan sangat kesulitan.

Laporan menunjukkan, pesawat drone pengisian bahan bakar ini kemungkinan tidak bersifat siluman. Ini hanya akan menyebabkan masalah jika musuh fokus melakukan serangan pada pesawat pengisian bahan bakar tersebut yang memaksa kapal induk harus datang lebih dekat. Dan pada saat itu maka rudal anti kapal musuh yang siap menerkam.

Saat ini jelas Amerika tidak memiliki masalah tersebut saat bergerak di Teluk untuk melakukan serangan terhadap ISIS.

“Jangan tertipu oleh berita. Hanya karena Washington dan sekutunya dapat menyerang ISIS, sebuah kelompok teroris yang tidak memiliki sarana untuk melawan,  bukan berarti kapal induk aman dari bahaya. Saya takut jika kita tidak memberikan senjata paling mahal di Amerika ini dengan platform yang dibutuhkan untuk menyerang dari jarak jauuh, kapal induk bisa bergabung dengan kapal yang mengambang jadi museum lebih awal daripada yang direncanakan,” kata Harry Kazianis.

 

 

Exit mobile version