Apa Solusinya?

Jadi apa solusinya? Harry Kazianis, Senior Fellow (non-resident) Defense Policy di Center for the National Interest dan Fellow untuk National Security Affairs di The Potomac Foundation dalam tulisannya di National Interest menyebutkan kapal induk perlu sebuah platform serang yang mampu menyerang target dari jarak jauh.
Dengan pertimbangan rudal anti kapal DF-26 China memiliki jangkauan berbagai 2.500 mil maka terbang jarak jauh dengan memanfaatkan stealth untuk menyelinap ke daerah-daerah yang dilindungi oleh sistem pertahanan canggih menjadi sangat penting.
Tetapi hal ini tidak dilakukan Pentagon untuk mengubah upaya pembangunan drone tempur berbasis kapal induk menjadi drone pengisian bahan bakar. Sementara logika jelas dengan medan pertempuran yang digambarkan di atas pesawat berbasis kapal induk seperti F/A-18 dan nantinya F-35 akan sangat kesulitan.
Laporan menunjukkan, pesawat drone pengisian bahan bakar ini kemungkinan tidak bersifat siluman. Ini hanya akan menyebabkan masalah jika musuh fokus melakukan serangan pada pesawat pengisian bahan bakar tersebut yang memaksa kapal induk harus datang lebih dekat. Dan pada saat itu maka rudal anti kapal musuh yang siap menerkam.
Saat ini jelas Amerika tidak memiliki masalah tersebut saat bergerak di Teluk untuk melakukan serangan terhadap ISIS.
“Jangan tertipu oleh berita. Hanya karena Washington dan sekutunya dapat menyerang ISIS, sebuah kelompok teroris yang tidak memiliki sarana untuk melawan, bukan berarti kapal induk aman dari bahaya. Saya takut jika kita tidak memberikan senjata paling mahal di Amerika ini dengan platform yang dibutuhkan untuk menyerang dari jarak jauuh, kapal induk bisa bergabung dengan kapal yang mengambang jadi museum lebih awal daripada yang direncanakan,” kata Harry Kazianis.