Jumlah ular yang keluar dari Sungai Yalu yang menjadi di perbatasan Korea Utara meningkat tajam. Pyongyang pun menuduh Korea Selatan menggunakan cara licik menggunakan binatang berbisa itu untuk mengacaukan negaranya.
Menurut sumber di provinsi Ryanggang berbatasan dengan China, unit patroli telah diperintahkan untuk menangkap ular karena mereka bergerak di tepi utara Sungai Yalu. Sumber tersebut juga menyatakan Pyongyang menuduh dinas intelijen Korea Selatan mengguanakan “skema licik untuk menantang kesatuan kita.” Beberapa sumber di provinsi Ryanggang juga telah menguatkan klaim ini.
Meski tuduhan Pyongyang dipertanyakan, mengingat lokasi geografis sungai Yalu, Kementerian Keamanan Korea Utara dan lembaga publik lainnya tetap mendesak warga untuk tetap waspada terhadap bahaya ular sepanjang waktu. Satu orang dikabarkan meninggal akibat gigitan reptile tak berkaki tersebut..
Beberapa berpendapat bahwa menuduh Korea Selatan melakukan plot seperti itu bisa menjadi upaya untuk propaganda seperti yang disebut kampanye kecepatan Kim Jong-un untuk meningkatkan perekonomian.
Rumor bahwa gigitan ular bisa berakibat fatal telah menyebabkan orang yang menghabiskan banyak waktu di sekitar Sungai Yalu, membeli celana karet berkualitas tinggi. Permintaan sempat melonjak, dilaporkan menaikkan sepasang celana panjang seharga sekitar 60.000 won atau sekitar Rp91.000.
Baca juga: