Pesawat tanker KC-30A Angkatan Udara Autralia melakukan misi menegangkan ketika harus mengisi sebuah F/A-18 Hornet Marinir AS yang mengalami masalah mesin. Misi ini baru pertama kali dilakukan dalam misi tempur sebenarnya.
Sebuah F / A-18 Hornet telah mengalami masalah mesin ketika melakukan misi serangan di langit Irak. Hal ini menjadikan pilot harus mematikan salah satu mesin pesawat.
Kondisi ini memaksa pesawat harus membakar lebih banyak bahan bakar dari yang untuk bisa melakukan perjalanan panjang pulang ke rumahnya.
“Ini sebuah misi y ang menantang. Pengisian bahan bakar udara ke udara kepada Hornet dengan salah satu mesinnya mati baru kali. Sebelumnya kami hanya melakukan dalam skenario uji penerbangan dan tidak di atas zona perang,” kata Departemen Pertahanan Australia dalam pernyataannya, Kamis 29 Oktober 2015.
Hornet juga harus menjatuhkan bom dari salah satu sayapnya untuk menjadikan pesawat lebih stabil.
“Bagian tersulit adalah bahwa Hornet tidak bisa mempertahankan ketinggian atau kecepatan yang diperlukan dalam mengisi bahan bakar dan tentu saja semua di atas lingkungan yang tidak bersahabat di Irak,” kata Komandan Skuadron Jamie.
“Opsi pertama adalah untuk menerima pengisian bahan bakar pada kecepatan lebih rendah dari yang biasanya diperlukan, dan pengisian bahan bakar pada kecepatan yang belum pernah dilakukan oleh saya atau kru saya. Pilihan lainnya adalah melakukan apa yang kita sebut tobogganing, di mana kita mengisi bahan bakar saat turun untuk memungkinkan Hornet untuk mengumpulkan kecepatan. Tetapi pilihan ini akan membawa kita ke bawah ketinggian yang aman. Akhirnya kami melakukan dengan pilihan pertama.”
Pilot Hornet terus berusaha untuk menerbangkan pesawatnya ke posisi pengisian. Sementara tanker RAAF berusaha untuk terbang lurus dan stabil pada kecepatan lambat. Dan akhirnya proses sulit itu bisa dilakukan. “Dia melakukan pekerjaan yang berat tetapi berhasil dan kami sangat lega bisa membantunya keluar dari masalah. Jika kita tidak bisa membantu, ia pasti harus membuat pendaratan darurat di Irak yang mungkin akan berbahaya,” kata Komandan Skuadron Jamie.