Mesir Membutuhkan Mistral
Di sisi lain Mesir harus terus berjibaku untuk berperang melawan berbagai kelompok garis keras. Negara ini juga terlibat dalam perang melawan ISIS dan Houthi diY Yaman. Secara geografis berbicara, ancaman terutama berasal dari seluruh Semenanjung Sinai, yang dikhawatirkan Mesir nantinya akan mengganggu jalur lalu lintas di Terusan Suez. Selain itu Mesir juga siaga di kawasan perbatasan Libya yang saat ini terus dilanda perang saudara.
Bahkan dengan momok meningkatnya pergerakan ISIS di Sahara dan bagian dari sub-Sahara Afrika akan menjadi persoalan serius bagi Mesir. Dan memiliki dua kapal mistral sebagai bagian dari strategi untuk mengatasi masalah tersebut.
Mistral merupakan kapal yang tangguh yang dapat digunakan sebagai semacam basis untuk diparkir di lepas pantai Mediterania, Laut Merah, dan Laut Arab. Meski hal ini harus diikuti dengan pergeseran besar dalam kebijakan luar negeri Mesir. Meskipun mungkin pergeseran ini telah berlangsung, dengan negara-negara Arab Sunni secara terbuka melawan Iran yang mendukung Pemberontak Houthi di Yaman. Bahkan, militer Mesir dan Arab Saudi telah bergabung pada level tertentu untuk mencoba untuk membentuk daerah seperti yang mereka inginkan yang dikenal dengan Deklarasi Kairo, dan ditandatangani dengan sedikit perhatian media Barat musim panas ini. Penambahan sepasang kapal operator helikopter dan kapal serbu serbu amfibi bisa memberikan counter-balance terhadap peningkatan pengaruh Iran di wilayah tersebut.
Pembelian dua kapal ini sekaligus menunjukkan tanda jelas bahwa Mesir ingin lebih aktif dalam operasi militer dibanding yang sudah-sudah.