Amerika dan Arab Saudi mengatakan akan melatih sekitar 5.000 pemberontak Suriah untuk melawan ISIS/ISIL. Lalu apa komentar para pemberontak ini? “Kami tidak membutuhkan pelatihan. Dan kami memiliki tentara yang cukup. Apa yang kita butuhkan adalah senjata berkualitas,” kata Wawi, seorang komandan di Tentara Pembebasan Suriah. Kelompok yang diincar Amerika untuk dijadikan pasukan menghancurkan ISIL.
“Kita perlu senjata anti-pesawat. Kita perlu senjata anti-tank. Jika kita tidak mendapatkan orang, kita tidak bisa menang, tidak peduli apa yang dilakukan Amerika Serikat.”
Di bawah undang-undang saat di Kongres Amerika, Wawi dan kawan-kawannya tidak mungkin mendapatkan apa yang dia inginkan. Sebuah bagian penting dari rencana Obama bergantung pada persetujuan Kongres dari $500 juta untuk melatih dan melengkapi Tentara Pembebasan Suriah.
Tetapi pemerintah AS menolak memberikan senjata ampuh yang diminta oleh para pemberontak seperti rudal permukaan-ke-udara karena kekhawatiran mereka bisa justru digunakan untuk melawan Amerika atau sekutunya. Kekhawatiran tersebut telah diperkuat sejak jatuhnya jet penumpang Malaysia Airlines di Ukraina. (Baca: AS-Arab akan Latih 5.000 Pemberontak Suriah)
Obama mengatakan ia akan bekerja dengan Kongres untuk meningkatkan dukungan kepada oposisi Suriah. Pada awalnya terbatas pada pelatihan 3.000 orang selama periode 18-bulan dan kemudian jumlahnya akan naik. Rencana ini sebenarnya menunjukkan keengganan Amerika untuk menurunkan pasukan darat ke Timur Tengah. Mereka hanya berani menggunakan pesawat tempur untuk memborbardir target dari atas.
Pasukan Pembebasan Rusia mengatakan saat ini senjata mereka tidak mencukupi. “Kami hanya bisa menjaga pertempuran tetapi tidak bisa untuk menang,” kata Wawi.
Di Washington, beberapa mengatakan itu bukan hanya masalah senjata. Mereka berpendapat bahwa sementara pemberontak bisa memberikan informasi intelijen penting untuk dasar serangan udara Amerika Serikat.
Wawi skeptis pelatihan dengan Amerika. Ia pernah melakukan hal itu di Qatar selama 15 hari pada Juli tahun lalu. “Mereka hanya mengajarkan saya bagaimana menggunakan senjata Rusia seperti senapan Kalashnikov,” katanya. “Saya merasa sangat tidak berguna.”
Wawi, berusia 37 tahun. Ia bergabung dengan pemberontak setelah menyaksikan tindakan keras pemerintah brutal pada aksi demo 2011 di Jabal al Zawyeh.
Kehadiran rutin di YouTube dan TV berbahasa Arab, Wawi berada di Arab Saudi mencari pembicaraan dengan para pemimpin Saudi, katanya. Dia menggambarkan dirinya sebagai sekretaris jenderal Tentara Pembebasan Suriah, meskipun posisi yang tepat dalam kepemimpinan tidak jelas.
Berbicara kepada Reuters saat makan malam di Jeddah, katanya ancaman terbesar yang dihadapi para pemberontak bom barel, yang telah dijatuhkan oleh tentara pada lingkungan padat penduduk yang menyimpang dari resolusi Dewan Keamanan PBB melarang sembarangan dan mematikan bahan peledak.