Multiple independently targetable reentry vehicles atau yang dikenal sebagai MIRV akan menjadikan ancaman rudal balistik China dan India lebih serius bagi dunia dibandingkan Iran atau Korea Utara.
Seperti ditulis Zachary Keck, redaktur pelaksana majalah National Interest berbasis di Washington pada 19 Desember MIRV memungkinkan rudal Cina dan India bisa membawa muatan dari beberapa hulu ledak nuklir. Masing-masing dapat diarahkan pada satu set yang berbeda dari target setelah rudal diluncurkan. Hal ini memungkinkan hulu ledak nuklir menjadi kurang rentan terhadap sistem rudal anti-balistik. Sistem MIRV memberikan kemampuan berbahaya untuk mengacaukan keseimbangan strategis dibentuk selama Perang Dingin.
Pertama, rudal yang berisi sistem MIRV dapat digunakan untuk menghilangkan berbagai situs nuklir musuh secara bersamaan menggunakan hanya sebagian kecil dari kekuatan rudalnya. Kedua, kemungkinan kematian juga meningkat karena sistem MIRV memungkinkan rudal bisa mencapai target yang sama lebih dari satu kali. “Sistem senjata berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir,” kata Keck.
Setelah AS mengerahkan rudal pertama dengan sistem MIRV pada tahun 1968, Uni Soviet kemudian meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir dari 10.000 sampai 25.000. Di saat yang sama, Uni Soviet juga membangun rudal dengan sistem MIRV. China dan India mulai menggunakan untuk memenuhi doktrin kekuatan pencegahan minimum hal rudal nuklir mereka. Namun sekarang, dengan pengenalan sistem MIRV ukuran kekuatan nuklir kedua negara akan berkembang.
Sistem MIRV India menimbulkan ancaman langsung ke Pakistan sementara China dapat menimbulkan bahaya yang mirip dengan Rusia. Rusia saat ini memegang hulu ledak nuklir jauh lebih banyak daripada China. Tetapi situasi bisa berubah ketika China mulai melengkapi sistem MIRV l dan memperluas ukuran kekuatan nuklirnya. Untuk mencegah keunggulan nuklirnya tidak terkikis Moskow harus membatalkan perjanjian pengendalian senjata yang dengan Amerika Serikat.
Sumber: Want China Times
Comments are closed.