Penambahan alat militer besar-besaran oleh Indonesia mengerek kekuatan pertahahan negara kepulauan ini dalam status tidak bisa dianggap main-main. Bahkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan pertahanan keamanan Indonesia kini sudah sangat kuat di semua matra baik darat, udara maupun laut.
Menhan saat pengukuhan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Banjarmasin-592 di Banjarmasin, Rabu 20 Agustus 2014 mengatakan dalam lima tahun, jumlah peralatan militer Indonesia meningkat signifikan karena anggaran untuk kebutuhan itu pada tahun 2010-2014 naik hingga lima kali lipat dan naik tiga kali lipat pada 2005-2009.
Menurut dia, kenaikan jumlah anggaran tersebut membuat Kementerian Pertahanan mampu melengkapi dan mengganti berbagai alutista yang memang harus diganti. Melalui perlengkapan alutista yang telah tersedia, tambah dia, maka pemerintah mampu membangun pertahanan negara lebih kuat lagi, terutama untuk mendukung angkatan laut.”Saat ini, TNI Angkatan Laut juga sedang menunggu penyelesaian pembuatan kapal selam, kapal perusak atau kapal rudal, kemudian untuk melengkapi Marinir juga sedang dikembangkan tank-tank, helikopter, dan lainnya,” katanya.
Melalui pengembangan alutista dan kemampuan pertahanan Marinir dan lainnya, ia mengharapkan Indonesia akan disegani oleh lawan maupun kawan. Salah satu peralatan alutista tersebut adalah KRI Banjarmasin-592 yang baru dikukuhkan di dermaga Pelabuhan Trisakti Banjarmasin dengan disaksikan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Dr Marsetio, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin, Muspida dan tokoh masyarakat Kalsel.
KRI Banjarmasin-592 merupakan kapal jenis “landing platform dock” (LPD) atau kapal bantu angkut personel (BAP) produksi PT PAL, untuk memperkuat armada TNI Angakatan Laut. Kapal yang saat ini berada di jajaran komando lintas laut militer (Kolinlamil) serta di bawah binaan satuan lintas militer (Satlinlamil) Surabaya tersebut, resmi masuk jajaran TNI Angkatan Laut pada 28 November 2009.
Menurut Menhan, KRI Banjarmasin ini merupakan salah satu dari empat kapal LPD yang dipesan TNI Angkatan Laut. Dua dari empat kapal itu, pembuatannya dikerjakan di Korea Selatan, yaitu KRI Makasar-590 dan KRI Surabaya-591.Namun, dua KRI lainnya, yakni KRI Banjarmasin dan KRI Aceh-593, dikerjakan di galangan kapal PT PAL Surabaya dengan menerapkan prinsip “transfer of technology (ToT) dengan pengawasan tenaga ahli dari galangan kapal “Dae Sun Shipbuilding, Korea Selatan.
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr Marsetio mengatakan seperti halnya kapal jenis LPD, KRI Banjarmasin-592 mampu menampung lima helikopter, yakni tiga helikopter di dek dan dua helikopter di hanggar.Kapal ini juga dirancang mampu mengangkut 22 tank, juga mengangkut kombinasi 20 truk dan 13 tank, serta 560 pasukan dan 126 awak kapal.
Selain berfungsi untuk memobilisasi pasukan, kapal sepanjang 125 meter x 22 meter tersebut juga dapat digunakan operasi militer selain perang, seperti membawa logistik ke daerah bencana alam, operasi kemanusiaan dan lainnya.
KRI ini memiliki berat hingga 7.300 ton dan dapat melaju dengan kecepatan maksimal 1,4 knot. Sebagai kapal perang, kapal ini juga dipersenjatai dengan satu unit meriam kaliber 57 mm dan dua unit kaliber 40 mm. “Hingga saat ini, KRI Banjarmasin telah mengemban berbagai tugas, antara lain operasi pembebasan sandera di Somalia, “Brunei Fleet Review”, Latsitardanus 2011 di Dumai, serta mengikuti parade kapal perang Internasional di Qindao, Provnsi Shandong, Tingkok, dan beberapa tugas lainnya,” katanya.
Comments are closed.